LAHIRAN

Pagi ini saya mau ke rumah sakit di jalan Kawi. Rumah Sakit Melati Husada. Semalam, sekira maghrib saya mendapat kabar, istri teman saya sudah di RS tersebut untuk proses lahiran.

Sedianya, semalam juga saya berencana meluncur segera setelah mendapat kabar. Namun saya urung. Hujan, juga angin yang tak hentinya-hentinya sejak maghrib tak memungkinkan saya untuk pergi. Apalagi di rumah istri tinggal seorang diri. Tentu saja saya tak tega meninggalkannya sendirian dalam keadaan seperti itu.

Mendapat kabar kelahiran tersebut membuat saya sangat bahagia, karena suami dari perempuan yang hendak melahirkan tersebut adalah satu dari sedikit kawan seperjuangan di warung kopi.

Menurut cerita kawan-kawan, momen kelahiran adalah momen paling mendebarkan dalam hidup. Seorang suami yang menunggui istri di rumah sakit diselimuti bermacam-macam perasaan tak karuan. Mulai dari panik, gelisah, deg-degan, dan lain-lain. Keadaan tersebut membuat suami dalam tekanan, tak kurang dari tekanan yang dialami istri yang sejak berbaring di kamar menunggu proses lahiran tiba.

Saya hanya bisa membayangkan keadaan tersebut, karena saya pun belum menjadi ayah. Iya, belum.


Tempo hari adalah penyebabnya. Liburan akhir tahun tempo hari adalah hari penuh kebahagiaan sekaligus penderitaan batin. Liburan akhir tahun sejak mula sudah terencana jauh-jauh hari sebelum jatuh tanggal. Pertama, adik sepupuh di kampung hendak nikahan. Kedua, liburan akhir tahun adalah liburan panjang. Dalam benak saya berangan-angan, liburan panjang akan sangat berguna untuk mengisi waktu luang dengan menerjemah. Iya, saya memang sedang giat-giatnya menerjemah teks-teks berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia, atau sebaliknya. Hasil terjemahan tersebut akan saya gunakan untuk melengkapi profil pribadi di direktori-direktori penerjemahan yang saya ikuti.

Hari-hari menjelang liburan akhir tahun itu saya memang dalam keadaan on fire. Sejak tinggal di kota baru ini perspektif saya tentang pekerjaan berubah 180 derajat. Bila waktu berangkat dari rumah beberapa bulan sebelumnya saya masih berharap pekerjaan dan penghasilan dari melamar ke perusahaan-perusahaan. Tapi, setelah tinggal beberapa minggu, dan setelah bertemu dengan banyak kawan lama saya menjadi yakin saya dapat mendayagunakan kemampuan menejemahkan saya untuk mendapat pekerjaan, sekaligus penghasilan.

Balik lagi ke cerita di atas: lahiran bukan saja momentum baru dalam hidup, melainkan ia dapat mengubah banyak hal dalam tabiat, pemikiran, dan mentalitas seseorang.

Ada banyak cerita seputar itu.

Ada seorang kawan perempuan yang sudah bertahun-tahun menikah, tapi tak kunjung sampai di momentum lahiran. Pendek kata, dia belum bisa hamil. Ada lagi kawan yang sampai 2 atau 3 kali menunggui istrinya di rumah sakit untuk lahiran, namun nyawa anaknya tak tertolong. Begitu lahiran, mengangis sejenak, lalu hening. Tangisnya tak kedengaran lagi. Malaikat sudah membawanya pergi. Yang lain lagi ada kawan yang hanya sampai hamil saja, namun di tengah jalan ia kandas. Ini persis yang saya alami tempo hari. Istri saya tak bisa membendung laju darah yang terus mengalir dari kewanitaannya, hingga akhirnya dokter memvonisnya bahwa ia positif keguguran. Begitu mengetahui bahwa ia keguguran, air matanya tumpah tak tertahankan.

Yang saya ceritakan ini adalah lahiran anak pertama.

Kenapa lahiran anak pertama bisa mengubah banyak hal dalam hidup seseorang, mungkin dapat saya bayangkan: pertama, sejak lahiran anak tersebut, seorang suami beralih status ke ayah; istri ke ibu. Hubungan suami-istri tidak lagi sebatas hubungan dua orang bujang yang saling berbagi kehangatan. Dengan kehadiran si jabang bayi, nilai-nilai moral yang sudah turun-temurun mereka warisi dengan sendirinya memenuhi ruang kesadaran kesadaran baru. Yakni, bahwa terdapat sekian kewajiban yang harus mereka tunaikan. Ada bertumpuk-tumpuk ‘pekerjaan rumah’ yang tidak saja menuntut biaya materiil tak sedikit, namun juga kesabaran, keuletan, ketangguhan jiwa, ketahanan batin, dan lain-lain yang mesti mereka jalani. Karena, anak adalah anugerah langit yang dalam tubuh fisiknya yang rapuh terdapat ruh yang abadi. Agar tubuh fisik sehat dan tidak malnutrisi, orangtua harus menyediakan nutrisi-nutrisi yang diperlukan. Begitu pun dengan ruhani.

Kedua, karena peralihan status, sepasang suami-istri diperhadapkan dengan banyak peralihan dalam banyak soal, baik soal-soal yang menyangkut diri, lingkungan, maupun dengan pasangan sendiri. Sampai di tahap itu, ada semacam kebutuhan untuk saling beradaptasi. Tak jarang, karena kegagalan beradaptasi dan buruknya egosentrisme masing-masing, biduk keluarga berantakan.

Itu saja yang dapat saya tulis untuk menyambut kelahiran anak pertama kawan saya Ahmad Hariri yang jatuh pada tanggal 22 Januari 2019.

Advertisements

HIDUP

Tahukah kau saat ada sesuatu menyelinap masuk ke dalam kendang telingamu, apa yang sampai ke ubun-ubunmu?

Daun telinga masih lengkap. Kendangnya masih bekerja dengan baik. Pandanganmu jatuh ke arah di mana kau menyimak sesuatu. Tapi, sekonyong kupingmu tak dapat menangkap apapun selain suara melengking yang lewat begitu saja.

Perhatian yang buyar atau perhatian yang terlampau menilik suatu titik konsentrasi, organ tubuh adalah seperangkat benda hidup yang bukan hanya sakit, melainkan juga out of order. Dia ada tapi tak menampakkan fungsi keberadaannya. Dia hadir di tengah-tengah pembicaraan, tapi pembicaraan di luar sana adalah deretan kalimat tak berarti apapun baginya. Inderanya hadir, tapi tak menghadiri. Dia gagal menjadi bagian dari suatu organisasi lain di luar dirinyya. Entah itu organisasi kalimat-kalimat, ide-ide, atau kehangatan.

Kehidupan kita adalah hadiah terbaik dari Tuhan untuk turut menyaksikan kehangatan itu.

Berderet-deret kalimat, berbusa-busa ungkapan, berlusin ide akan sampai kepada pendengar yang menyimak dengan hati. Dan hati yang belum terkooptasi oleh berbagai kepentingan nafsu (lebih-lebih nafsu berahi) akan menangkap kalimat-kalimat sederhana yang dikicaukan beburung atau dinyanyikan oleh lambaian dedaun. Saat kalimat-kalimat sederhana itu menempias dinding indera, ia akan menyublim, mengkristal, dan menggores sanubari. Pada sanubari, tidak ada kata ‘lain’. Karena semua yang bukan-diri pastilah berkemungkinan lain, dan itu sebabnya kelainannya tak perlu dirisaukan, apalagi dipersoalkan.

Barangkali, di sinilah soal kita. Karena hari-hari yang sibuk menekan tombol gawai, tombol-tombol inti kemanusiaan tak sempat kita pencet.

Hari-hari yang penuh ujaran politis -untuk tak mengatakan hoaks secara nyata- adalah saat di mana semua golongan hidung akan menyesatkan golongan tangan, kaki, udel, dan seteruanya. Keseragaman adalah saat di mana kaki harus kanan atau kiri semua. Dan warna harus merah semua, karena selain merah itu sesat dan otomatis masuk daftar penghuni jahannam.

Hari-hari ini adalah hari penjungkirbalikan fungsi perangkat-perangkat hidup, atau apapun saja yang dimungkinkannya: bagaimana kita membaui dengan tangan atau menghardik dengan mulut.

Seorang sofis bisa dengan leluasa menendang, memukul, dan menghardik hanya dengan jumpalitan di antara rerimbunan kata dan kalimat-kalimat, sedang argumentasinya berlarian entah ke mana. Seorang agamawan merdeka menjahannamkan manusia lain yang sepemeluk dengan membakar rumah-rumah keimanan di ceruk dada, pun dengan meminjam lidah tuhan. Seorang seniman tampil bonyok di layak televisi, tampil dengan rombongan membawa kabar busuk.

Polusi diproduksi setiap saat, entah atas dalih pemulihan atau semata-mata politis.
Dari sinilah, barangkali, kita menuju pemesinan manusia, sebelum mesin-mesin benar-benar menggantikan kedudukan indera dan kemamusiaan. Namun, bagaimana pun, manusia sebagai subyek kehidupannya sendiri tak dapat digeser oleh ciptaannya sendiri. Mesin tak dapat menggantikan perasaan manusia akan kebahagiaan, kematian, kebersahajaan, dan lain sebagainya.

Suara-suara keresahan datang silih berganti. Dan hanya manusia yang sanggup tak membiarkannya berlalu, pergi, dan menghilang selama-lamanya dari kehidupan. Selama kemampuan mendengar, melihat, meraba, dan seterusnya itu masih dapat dijalankan oleh indera, mungkin kiamat kemanusiaan dapat dibendung. Hati memang tak mampu mengalkulasi jumlah detak jantung, tapi ia mampu memperkirakan kadar kemampuan jantung memompa darah, entah besok atau lusa ia berhenti.

Angin berbisik dengan separuh tenaganya yang mulai aus, membawakan musim, dan mengabarkan nasib nelayan. Kita adalah nelayan yang kehilangan kemampuan melepar sauh dan menebar pukat.

Tapi, kita tak ingin kehilangan hidup sebelum pintu langit terkatup.

Kemampuan dan Kegelisahan

Apa yang bisa dilakukan orang dengan kemampuan terbatas? Jawaban untuk pertanyaan ini tidak akan mencengangkan, sebab kita sudah tahu pasti: tidak ada.

‘Tidak ada’ adalah jawaban paling pas dan masuk akal bagi orang yang ‘tidak ada’ kemampuan.

Demikianlah nada jawaban yang sering kita dengar. Kalau tidak kita dengar sendiri, diam-diam dalam alam bawah sadar kita menyimpan jawaban serupa, atau kita pun turut mempelopori jawaban yang tak jauh-jauh amat dengan jawaban tadi. Ketiadaan kemampuan sudah terbungkus rapi sepaket dengan kebodohan, ketololan, dan ketakberdayaan-ketakberdayaan.

Oleh sebab itu, kita mesti mawas diri. Ketakmampuan sebisa mungkin terusir dari dalam diri.

Dunia tidak memihak kepada kebodohan. Roda zaman berputar, dan yang bodoh akan terlindas. Kehidupan manusia terus bergerak maju, dan yang memajukan adalah mereka yang sudah merdeka dari penjajahan kebodohan. Melenyapkan kebodohan, dengan demikian, bukan saja kepatutan, melainkan kewajiban. Kewajiban tersebut juga bukan kewajiban kolektif, tapi individual. Fardhu ‘ain menurut Agama.

Di zaman ini, kemampuan diasah di sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan. Di luar keduanya masih ada sekian lembaga kursus. Memperoleh kemampuan, dengan demikian, bukan lagi perkara sulit. Demikian pun orang-orang dengan kemampuan mumpuni dapat diakses dengan mudah. Di lain pihak, persebaran informasi hari-hari ini mungkin bahkan lebih gesit ketimbang kedipan mata. Internet dan Teknologi Informasi memungkinkan segala hal ihwal yang hanya dibayangkan oleh orang-orang tua di masa lalu. Akhirnya, kita memang hidup di mana kemampuan menggerakkan dan memobilisasi kemajuan-kemajuan.

Namun demikian, urusan manusia dengan alam dan lingkungannya tuntas tak bersisa. Kemampuan adalah satu soal, sedang manusia dengan berbagai kegelisahannya adalah soal lain.

Sejak zaman yang sangat jauh di masa lalu, manusia sudah berkali-kali menemukan dan hingga kini masih terus menemukan dan mendayagunakan penemuannya untuk kemaslahatan hidup dan perikehidupan. Di antara penemuan-penemuan itu, manusia juga menemukan kebahagiaan, kesumpekan, kesederhanaan, kebersahajaan, dan lain-lain: penemuan yang bersumber dari penemunya sendiri.

Terhadap penemuan yang bersumber dari dalam diri, kemampuan menemukan penantangnya yang paling gila.

Bagaimana kemampuan dapat atau mungkin bertanding dengan sesuatu yang melekat dengan dirinya adalah perkara filosofis, juga sentimentil. Dalam perkara yang bersifat filosofis, agaknya musibah terbesar manusia adalah egosentrisme. Karena, egosentrisme adalah pengakuan total kepada ke-Aku-an dengan menyingkirkan yang lain yang tak se-Aku. Dengan begitu, pembebasan ke-Aku-an adalah jalan martir yang mesti diambil. Bila tidak, kemampuan kelak hanya melahirkan pembinasaan kepada mereka yang tak berkemampuan, atau berkemampuan namun tak memperoleh pengakuan.

Kita kini hidup di tengah kerumunan ke-Aku-an dan kemampuan. Sedangkan persekongkolan keduanya adalah program pemusnahan manusia jangka panjang.
Kemampuan mau tak mau mesti bertanding dengan kegelisahan. Kemampuan tanpa kegelisahan adalah algoritma komputer yang dipekerjakan ujung jari. Ujung jari menuding ke utara, musibah apa saja bisa muncul di sana. Tapi, kegelisahan dapat dapat menawar atau sedikitnya menunda tertunjuknya ujung jari. Kegelisahan manusia adalah manusia itu sendiri.

Menumpas kegelisahan demi kemampuan sama dengan menumpas manusia.

PERJALANAN

Perjalanan ini
Trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Di sampingku kawan

Entah kenapa sebuah lagu berjudul “Berita kepada Kawan” dari Ebiet G Ade ini begitu mengental dalam ingatan saya.

Suaranya yang agak kering, ditambah kekuatan pesan dalam lirik, seperti menyatu dengan bau knalpot, deru mesin bis, dan jerebu sepanjang jalan. Ebiet G Ade adalah seorang Grand Master yang memainkan lirik-lirik perjalanan begitu gemulai, lincah, dan menikam. Seorang Grand Master tentu saja dibesarkan oleh pengalaman-pengalaman getir di masa-masa awal kehidupannya, juga oleh kepahitan-kepahitan yang bertubi-tubi mendera. Ebiet memang lama menggelandang di Malioboro. Mungkin dari sana saya bisa mengarahkan pembicaraan mengenai getir-pahit kehidupan awal seorang Ebiet.

Saya kerapkali menikmati lagu-lagu Ebiet G Ade dan pelantun-pelantun lagu lawas yang lain di dalam bis, entah dalam perjalanan pulang atau pergi. Tahun 2000an saya sudah sering naik bis PP Probolinggo-Bangkalan. Kemudian, 2003 hingga kini masih sering PP Malang-Bangkalan.

Dari suaranya yang agak kering, saya seperti menemukan musim kemarau dengan panas yang tak begitu terik. Ini bukan dari jenis kemarau yang menyiksa. Saya masih menemukan titik-titik embun yang berat di pagi hari. Ketika matahari meninggi dua galah, ia memancarkan rindu para petani kepada datangnya musim hujan tanpa petir yang menyambar-nyambar dan puting beliung yang ganas. Dan menjelang siang, matahari adalah penerang tanpa rasa malu. Ia adalah bola api yang memancarkan sinar petromaks yang hadir di tengah-tengah gelapnya harapan para petani kepada hujan yang tersendet-sendat akibat anomali.

Dari liriknya, masa silam di desa hinggap kembali ke dasar ingatan. Ia menghujam. Menusuk-nusuk. Namun tusukan dan hujamannya tidak datang dari sabetan tangan yang angkuh dan pongah. Hujamannya justru melumerkan kepala yang sedikit-sedikit mendidih akibat kerasnya jalanan hidup yang jauh dari harapan, cita-cita, dan angan-angan. Liriknya juga menawarkan kegeraman suatu masa, namun tak kunjung datang kekuasaan untuk memulihkannya. Atau, melewati masa itu kembali seraya berdendang penuh kegirangan. Liriknya memberi harapan maya dalam benak bahwa masa-masa yang lewat sesungguhnya tak sepenuhnya lewat. Ia bahkan bisa datang kapan saja. Saya bahkan sedang bergegas di masa silam ketika dalam bis sendirian, bis meluncur dengan kekuatan penuh. Atau ketika macet dan penumpang berdesakan dengan keringat bercucuran.

Untuk urusan perjumpaan dengan keheningan dan kesendirian, Ebiet termasuk dari sedikit pemusik sekaligus penyanyi yang begitu lincah memainkan kata-kata dalam liriknya. Selain itu, dahsyatnya lagi, adalah bahwa dia mengerti betul mana kata-kata yang kompatibel dengan kendang suaranya dan mana yang tidak. Lalu, keduanya dipadukan dengan petikan gitar yang sesungguhnya nuansanya lebih kepada pelengkap daripada petikan akustik. Namun demikian, justru lirik, suara, dan petikan gitarnya adalah suatu persenyawaan kimia rasa yang saling menguatkan, menagguhkan, dan menopang kekuatan masing-masing.

Saya menikmati lirik demi lirik dan hentakan demi hentakan intonasi suara berikut petikan gitar Ebiet dengan kekhusyukan batin yang mendalam.

Tapi, ketika saya hendak menuliskan sesuatu tentangnya, selalu saja seperti ada yang mengganjal di dalam dada. Namun juga, kalau dibiarkan, ia malah bergerak liar dari satu sudut angan-angan ke sudut lainnya. Lalu ia buyar, entah dibuyarkan oleh kerepotan yang mendesak atau oleh keinginan lain yang justru ingin tetap membungkamnya hanya dalam keheningan. Di banyak kesempatan, saya memang ingin membiarkannya berkubang dalam sepi. Lalu, seperti biasa, pada kesepianku sendiri saya membiarkannya memorak-porandakan bangunan akal budiku.

Saya ingin terus berjalan. Tanpa jejak. Dulu, saya mengangankan begitu. Karena perjalanan tanpa jejak adalah perjalanan merdeka. Ketika menghadap Tuhan, saya tak meninggalkan luka di bumi.

Kemudian, datang masa yang lain lagi. Perjalanan akademis di kampus merubah segala hal yang saya sudah benamkan di kepala sejak di desa. Rupanya, kota berikut atribut-atribut artifisialnya menghendaki sesuatu yang kedengaran agak sumbang di desa. Kota mengharuskan penjejakan. Seorang akademisi harus membaca buku, menulis, atau meneliti. Mungkin, tahun-tahun mendatang manusia sudah tak perlu lagi belajar dari penggalan-penggalan kisahnya sendiri, karena bacaan sudah demikian melimpah. Mereka hanya perlu pergi ke toko-toko buku. Lalu membaca. Lalu menulis.

Saya tidak tahu. Tapi mungkin ada benarnya.

TANTANGAN PEMUDA DI ERA DIGITAL: MINDSET DAN KETERTUTUPAN

Anak-anak milenial –yang sering dikonotasikan dengan Generasi X- tentu familiar dengan terminologi virtual, internet of thing, the third wave, big data, cloud computing dan seterusnya. Benar belaka, terminologi-terminologi tersebut diproduksi oleh automatic and smart machine (mesin pintar nan otomatis) dalam bentuknya yang paling mutakhir. Memang, kini dunia telah menyemai revolusi gigantis yang ke-4, atau umumnya dikenal dengan Revolusi Industri 4.0.

Sejak diumumkan di tahun 2012 silam oleh Germany’s High Tech Strategy 2020 dalam gelaran Hannover Fair, Hannover, Revolusi Industri 4.0 berikut wacana-wacana derivatnya menguasai wacana global. Dunia seperti berputar 180 derajat: mesin komputer yang awalnya dioperasikan secara manual digantikan oleh teknologi Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) yang dianggap sebagai invensi ‘paling manusiawi’. Dia dianggap paling manusiawi sebab dia mulai mengadopsi dan menyuntikkan ‘sistem kesadaran’ manusia ke dalam sistem mesin otomatis. Sementara ini miniatur teknologi tersebut dapat kita nikmati lewat beberapa perangkat ponsel pintar, drone, dan lain-lain.

Kelak, teknologi tersebut memang diproyeksikan untuk menggantikan otak manusia dalam menjalankan fungsi berpikir dan berperasa, sekaligus berkarya. Tentu saja, pemanfaatan teknologi tersebut mempertimbangkan aspek kemudahan, keamanan, efisiensi, dan efektifitas.

Menurut Kinzel (2016), revolusi industri 4.0 ditandai dengan beberapa simpul, antara lain; cyber-physical system, information and communication technology, network communication, big data and cloud computing, human-computer, dan modeling, virtualization, dan simulation. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah menyediakan padanan kata untuk tiap-tiap kata, idiom, dan ungkapan serapan –khususnya yang berasal dari bahasa Asing-, namun saya masih lebih suka menggunakan istilah aslinya.

Berikut akan diberikan penjabaran sederhana mengenai istilah-istilah tersebut; Cyber-physical system adalah pemindaian informasi fisik melalui teknologi sensor. Hasil pemindaian tersebut ditabulasikan ke dalam sistem digital, lalu diwujudkan kembali (re-printed) dalam bentuk yang sama-persis dengan bentuk semula. Contoh sederhanya; hasil perekaman kamera terhadap ayam akan menghasilkan ayam dalam wujud tiga dimensi, bukannya gambar ayam.

Information and communication technology atau sering disebut sebagai ICT merupakan digitalisasi sistemik seluruh sistem entri dan rantai nilai, lalu diagregasikan ke dalam rantai sistem yang lebih spesifik. Hasil akhir dari pengembangan teknologi ICT ini berupa produk-produk manufaktur yang pada dirinya tertancap kemampuan menjadi agen sekaligus observer. Contoh gampangnya adalah kemampuan produk tekstil (baju) menyesuaikan diri dengan temperatur dan suhu pemakainya. Selain itu, baju tersebut juga dimampukan untuk memonitor dirinya sendiri; kapan ia masih dan layak pakai. Artinya, ia dapat memberi rekomendasi penggunanya untuk masuk lemari atau mesin cuci.

Network communication adalah sistem komunikasi dengan tingkat akurasi yang mendekati presisi. Internet dan sistem wireless (nirkabel) merupakan dua kata kunci utama pengembangan teknologi ini. Inovasi di bidang ini dapat mempercepat laju distribusi dan desentralisasi. Contohnya adalah sistem pemindaian sidik jari sebagai ganti dari model presensi manual.

Yang terakhir adalah big data and cloud computing. Secara sederhana dapat digambarkan, bila hard disk dan memory ponsel hanya mampu menyimpan dan menampung informasi, big data and cloud computing malah dapat digunakan untuk pemodelan, virtualisasi dan simulasi. Penjelasan di bagian ini agak rumit dan sukar dibahasakan dalam kiasan dan realitas harian yang dapat kita temui dengan mudah. Sebab, tekonologi ini berhubungan dengan teknologi nano dan sistem partikelir yang hari ini sedang dikebut pengembangannya. Namun, ponsel-ponsel keluaran terkini sudah menyediakan ruang penyimpanan berupa Cloud, baik Cloud produksi Microsoft maupun Google.

Perkembangan teknologi nyaris tak terkejar oleh manusia dari belahan dunia ketiga seperti kita. Namun demikian, generasi milenial harus mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk menatap digitalisasi mesin, pasar, pendidikan, dan sebagainya di masa mendatang.

MINDSET DAN KETERTUTUPAN
Ada yang bilang, ‘pengguna ponsel pintar belum tentu orang pintar’. Persebaran hoaks dan fitnah di berbagai lini masa menggambarkan betapa pengguna ponsel pintar belum punya kecukupan nalar dan logika untuk menyaring sebelum sharing. Tolok ukur kepintaran di sini tidak mengacu kepada derajat ijazah tertentu, namun lebih kepada penginsyafan nilai-nilai common sense (kewarasan umum).

Menurut sebuah rilis, dengan tingkat kepadatan demografis yang tinggi, Indonesia berada dalam peringkat yang kompetitif dengan negara-negara besar Asia lainnya sebagai pengguna aktif berbagai produk virtual/internet. Sayangnya, konsumen produk virtual dalam negeri masih berkisar di sekitaran pengguna pasif, dan hanya nol koma sekian persen yang berstatus sebagai pengguna aktif sekaligus pemanfaat. Baru setelah tahun-tahun belakangan orang banyak melirik e-commerce, gegap gempita anak-anak muda untuk memanfaatkan internet sebagai ladang pekerjaan dan karier mulai meningkat.

Pasar elektronik (e-commerce) adalah pasar potensial yang dapat menampung berbagai jenis inovasi dan kreatifitas. Jangkauan transaksi berikut komoditas pasarnya pun tak terbatas (borderless).

Dengan melihat geliat pasar global di internet, anak-anak milenial diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan, misalnya membekali diri dengan kemampuan-kemampuan teknis dan spesifik. Kompetsisi di level global meniscayakan ketajaman skil, kematangan pribadi, kedalaman jejaring dan daya adaptif yang tinggi. Selain itu, anak-anak milenial memerlukan kemandirian untuk menempa diri dengan; kemampuan menjalankan produk teknologi, kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir kritis dan inovatif, kemampuan digital, kemampuan mengola berpikir mandiri, kemampuan bergaul dengan masyarakat global, kemampuan berbahasa Asing, dan kemampuan-kemampuan lain yang erat-terkait dengan inovasi dan kreatifitas.

Karena masa depan dunia akan terus bergerak ke arah kreatifitas dan inovasi, negara-negara maju sudah sejak beberapa tahun silam mencanangkan rancangan gagasan ‘masa depan tanpa ijazah’. Rancangan tersebut tidak serta merta mengesampingkan institusi pendidikan sebagai penerbit ijazah, namun titik tekannya jatuh pada pengejawantahan independent learner (pelajar yang mandiri). Institusi pendidikan, kemudian, hanya bertugas membantu seorang pembelajar untuk menemukan, mengenali, lalu mengambil fokus yang jitu untuk menggali potensialitas dirinya dalam rentan konsistensi yang panjang. Bila diungkapkan secara analogis: menjadi seorang yang pintar saja tidak cukup; Anda harus menjadi seseorang yang istimewa. Secara lebih spesifik: senjadi sarjana itu mudah; Anda hanya butuh kuliah. Tapi, untuk menjadi istimewa Anda harus berguru kepada kehidupan.

Dengan begitu, rintangan dan tantangan anak-anak milenial dewasa ini tidak tergelar di luar dirinya, namun mendekam di dalam benak dan mindset-nya sendiri: perubahan itu nyata, ketertutupanlah yang diam-diam akan menikam mereka.

Air

Air bersih merupakan kebutuhan pokok. Tak bisa ditawar. Krisis air bersih adalah krisis kehidupan.

Beberapa bulan yang lalu, saat kawasan kita diterpa kekeringan, banyak desa dan kawasan-kawasan pedalaman memekik kehabisan air bersih. Rupanya, beberapa tahun terakhir kekeringan tidak saja menghantam perkotaan. Desa dan kawasan yang sejak dulu selalu dilimpahi kelebihan simpanan air kini harus menanggung krisis yang sama.

Mungkin penebangan hutan yang membabi buta penyebabnya. Mungkin juga pemanasan global. Namun jelasnya, dampak keduanya tak dapat dianggap sepele dan angin lalu.

Sebenarnya resolusi ke arah perbaikan teknologisasi dan industrialisasi sudah sering kita dengar. Negara-negara yang terhimpun dalam G-20 juga sudah kerapkali duduk semeja. Tapi, isu besarnya tetap tak terpecahkan.

Yang terdengar sayup-sayup kemudian masih lagu lama: negara-negara kelas satu secara nyata mengangkangi negara-negara berkembang. Keputusan rapat besar tetap menghasilkan keputusan-keputusan berat sebelah. Misalnya, negara kelas satu penghasil emisi terbesar hanya dikenai ‘pengurangan emisi. Di pihak lain, negara berkembang justru didorong untuk terus melestarikan hutan, serta menjaga aset-aset produsen oksigennya.

Keputusan yang jauh dari esensi win-win solution hanya melahirkan pembangkangan, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Kini, saat kita kedatangan musim penghujan, persoalan lain pun langsung menghantam. Yang paling umum kita dengar adalah banjir. Masalah banjir juga setali tiga uang dengan masalah kekeringan. Keduanya merupakan persoalan menahun. Seperti tak ada habisnya. Atau, kalau ia penyakit, belum kunjung ditemui hasil diagnosis dokter bumi yang dapat dijadikan rujukan resep untuk menyeka luka kekeringan dan banjir ini.

Lagi-lagi, barangkali penyebab utama krisis ini adalah penebangan hutan secara serampangan dan pemanasan global. Dan hanya kutukan demi kutukan yang kita dengar, sahut-menyahut di ruang sunyi.

Dengan mengetahui keadaan politik dunia yang demikian mencekam, harapan terbaik kita sementara ini adalah diri kita sendiri. Alam dan lingkungan sekitar bukan saja harus dijaga, namun juga ditempatkan pada posisi terhormat. Karena, bagaimanapun, hubungan manusia dan alam adalah hubungan kakak-beradik atau suami istri.

Alam tak mungkin sewenang-wenang kepada manusia selagi manusia dapat menjaga kewajiban-kewajiban etisnya kepada alam.

Krisis dan musibah ‘surplus’ air sejatinya merupakan ganjaran perbuatan kita sendiri.

KEMBALI KE DESA

Kembali ke desa, masih dijumpai air mengalir di kali. Angin bertiup menyelangkangi dedahan, lalu batang-batang bambu yang menjulang dibuatnya berkeriet.

Di siang hari, burung-burung mungkin sedang mengadu nasib di belahan desa yang lain demi menghidupi anak-anaknya. Ikan-ikan berenang ke dasar sungai untuk beristirahat, atau sama dengan burung: mencari cacing-cacing kecil di sela-sela lumut, pun demi indung telurnya yang mulai menetas. Tapi, udang-udang nampak di permukaan air, keluar-masuk di celah-celah batu.

Air di kali adalah surga bagi ikan, udang, dan sejenisnya. Keruhnya air akibat guyuran hujan semalam tak membuat suasana kehidupan dalam kali tak banyak berubah.

Inilah pemandangan siang hari desa saya. Desa yang terletak di kecamatan yang, menurut berbagai literatur, menjadi saksi sejarah penghuni pertama pulau Madura, yakni Geger.

Sewaktu masih kanak-kanak, saya seringkali bermain di pinggir kali, dengan anak-anak sepantaran atau sepermainan.

Di waktu kecil, anak-anak sepermainan tak mesti seumuran. Anak-anak yang jauh di atas saya, mainnya tetap bisa dengan anak seumuran saya. Atau, saya pun bisa bergabung dengan anak-anak yang lebih tua, pun dengan yang lebih muda. Mungkin karena terbatasnya mainan sehingga teman sepermainan tak mesti seumuran. Mungkin juga karena terbatasnya anak-anak sepermainan untuk diajak main mainan yang sama.

Ketika bermain di tepi sungai, saya dan anak-anak sepermainan bisa main apa saja; mulai dari petak umpet hingga mancing bareng.

Tak peduli air keruh atau tidak. Yang membedakan air keruh dan air bersih adalah hanya di jalan menuju sungai. Saat hujan turun, air sungai pasti naik, dan jalanan menjadi licin. Anak-anak sepermainan sewaktu menuruni tangga yang terbuat cangkokan cangkul sering dibuat tergelincir. Kalau sudah tergelincir dan ia meninggalkan lecet, pastilah sepulang dari kali langsung dapat hadiah hardikan dari orangtua.

Hardikan di sini tentu berbeda dari maknanya yang paling gila yang kita dapatkan dari dunia gila internet ini. Hardikan atau bogeman kepada anak tetap dalam semangat mendidik -yang khas desa. Persisnya desa saya.

Ini cerita di musim hujan. Lain lagi kalau kemarau.

Desa saya termasuk dalam kecamatan dengan sumber air terbanyak di Bangkalan. Data statistiknya tidak saya ketahui persis. Saya hanya mendapatkan berita tersebut dari salah satu pegawai kehumasan kabupaten, via mulut, sekitar awal 2017 lalu. Mungkin ada benarnya, mengingat bahwa dari sekian kecamatan yang pernah saya singgahi, kecamatan Geger memang jauh lebih melimpah dalam urusan air. Namun, titik-titiknya tidak merata. Satu-dua desa dari 13 desa kecamatan Geger malah mengalami krisis air bersih hanya dengan dua bulan tanpa hujan.

Bila kemarau tiba, air kali di sekitaran rumah tetap mengalir. Airnya bening, sehingga ikan-ikan yang berenang kelihatan dari bibir kali.

Saat begitu, anak-anak sepermainan lebih banyak menghabiskan waktu di pinggir kali. Main kelereng, babak sodor, kartu, dan lain-lain di pinggir kali. Sebenarnya sederhana saja cara pandangnya: kalau sudah berkeringat, anak-anak langsung nyebur ke sungai. Selesai nyebur, kalau tidak langsung bubar, biasanya pulang ke rumah masing-masing. Ada yang kemudian pergi sekolah sore (madrasah Diniyah), ada yang hanya pindah tempat main. Tapi umumnya anak-anak di desa saya sekolah sore. Sebab, kalau tak sekolah, teman bermain lain hanya bisa dihitung dengan jari. Itupun adanya masih di tetangga kampung.

Kini setelah tinggal di kota, suara burung dan kriet bambu hanya saya temui di layar android. Tapi, kenangan-kenangan yang mengunggun tak dapat diwakili oleh apapun saja.

Kematian; buaskah?

Bagaimanakah kita memahami kematian? Adakah ia di luar diri? Ataukah malah bagian dari diri?

Jika kematian berada nun jauh di luar diri, keadaan manusia dewasa ini patut kita maklumi. Namun, jika kematian melekat-dekat, mungkin kita agak masygul dengan berbagai perangai, sikap, dan perilaku manusia, atau bahkan diri kita sendiri.

Tontonan di layar kaca, berita di koran, dan kabar di jagad dumay (dunia maya) sudah cukup memberi kita informasi bahwa kematian, dengan apapun cara pandangnya, bukanlah sesuatu yang melekat-dekat. Ia makhluk lain. Ia mungkin binatang buas yang tak terkendali sama sekali. Dan, siapapun yang diterkamnya akan jadi mangsa tanpa ampun, tak bisa melawan, dan jelas tak bisa ditunda.

Adik sepupu baru 25 tahun. Kawan seperjuangan baru 34 tahun. Keduanya habis tak berdaya di hadapan kematian.

Kematian sudah tak kenal titimangsa. Uban dan gigi rontok bukan lagi penanda dekatnya kehidupan ke lubang kuburan. Begitu juga, kematian tak kenal intro. Misalnya, sakit-sakitan atau ketakberdayaan tubuh menghadapi suatu penyakit dalam waktu yang panjang. Kematian bisa datang saat sehat-sehatnya, saat olahraga misalnya.

Apa mungkin karena kebuasannya yang liar kematian makin tak teridentifikasi? Atau, karena manusia makin cerdas dan cemerlang, kematian pun demikian?

Banyak pertanyaan yang menyelimuti kematian yang tak berdaya saya jawab.

Sebagai orang beragama, saya meyakini bahwa kematian itu sederajat dengan manusia dalam hal kemakhlukannya. Kematian pun sebenarnya tidak abadi, karena keabadian hanya milik Tuhan.

Kematian adalah sejenis pintu. Hanya saja, pintu ini tidak seperti pintu dalam pemahaman kita akan pintu rumah atau tempat tinggal. Kematian adalah pintu yang menjalankan fungsi ganda sekaligus: memasuki sekaligus mengeluari. Dengan cara itu, kematian mungkin mirip-mirip dengan lubang kancing baju: memasukkan kancing di satu sisi, sedang pada sisi lainnya ia justru keluar. Kematian adalah filosofi kancing baju itu.

Bagi yang ditinggal, kematian adalah jalan terakhir dari hidup. Tapi, bagi yang meninggal, kematian justru pintu gerbang menuju kehidupan yang lain.
Ini penjelasan agama yang saya anut.

Kematian yang melekat-dekat.

Di luar sana, ketika agama hanya dianggap sebagai suara sumbang dari kegilaan, sebagaimana diyakini Christopher Hitchen, kematian adalah jalan moksa penghabisan. Tidak ada kehidupan lain. Setelah hidup berakhir, berkahir semualah perikehidupan manusia.

Inilah yang saya bayangkan kematian sebagai binatang buas di luar manusia.